Pages

Showing posts with label Prancis. Show all posts
Showing posts with label Prancis. Show all posts

Friday, October 12, 2012

Kalo Kata Nidji

Aussie Andry Venmarchnanto Muladno, 2012

Singkat cerita, saya adalah penerima beasiswa Erasmus Mundus Undergraduate program di Sciences Po Paris tahun 2011 kemarin selama satu semester. Pada awal mulanya, saya bener-bener gak kebayang bisa berada di negeri yang terkenal dengan menara Eiffel-nya itu. Gak pernah terlintas juga sebelumnya kalo saya bisa menginjakkan kaki di benua Eropa itu. Bahkan, percaya gak percaya, satu minggu pertama di Paris, saya merasa kalo itu semua masih mimpi loh. Hehehe.. Tapi yang jelas, saya yakin kalo semua itu terjadi bukan berasal dari sebuah kerandoman, melainkan dari sebuah mimpi.

"Pokoknya saya harus bisa dapetin scholarship to study abroad sebelum lulus. Pasti BISA !” 

Aussie Andry Venmarchnanto Muladno
Yap, dari sebuah mimpi sederhana pada pertengahan tahun 2009 tersebutlah semua itu berawal dan saya pun langsung menuliskan target tersebut di kertas A4 yang saya tempel di pintu lemari kosan saya. Sehingga yang pertama kali saya liat ketika bangun adalah tulisan: “GET THE SCHOLARSHIP TO STUDY ABROAD!”  yang seakan selalu bisa ‘menggerakkan’ saya untuk tidak berdiam diri.

Perjuangan pun dimulai !

Semenjak hari itu saya selalu mencari segala informasi mengenai scholarship. Saya sampe beli buku-buku yang berkaitan dengan scholarship di Gramed dan selalu berusaha untuk mengikutinya kesempatan scholarship tanpa terkecuali. Yang ada dipikiran saya pada saat itu adalah: ”Kesempatan belum tentu bisa datang dua kali. Gak ada salahnya untuk dicoba juga, kan ? There’s no harming to do.”  Kesempatan dapetin beasiswa dari AMINEF, AIESEC, ISFIT, IELSP, ERASMUS, Total Summer School, Tohouku University, STEPs  dan lain-lain saya coba semua di tahun 2010. Hingga tahun 2010 bisa saya namakan sebagai Tahun “Applying for Scholarships”. Tapi, hasilnya ? 

Alhamdulillah, kebanyakan ditolaknya euy.

Loh, kok malah ‘Alhamdulillah’, Sie ?  Iya, karena menurut saya mendapatkan kegagalan adalah sesuatu yang harus disyukuri. Kegagalan itu bisa memberikan banyak pelajaran. Kegagalan juga adalah bukan akhir dari perjuangan. Tetapi, kegagalan itu adalah proses menuju kepada keberhasilan. Jadi, kalo pada saat itu masih gagal, berarti itu masih dalam proses menuju keberhasilan. Keep being persistent !
Mental juga sangat diuji di sini yakni di saat saya ditolak untuk pertama kalinya, kedua kalinya, ketiga kalinya sampe akhirnya saya menjadi bersahabat dengan yang namanaya ‘ditolak’. Itu bener-bener ujian bagi saya untuk tidak menyerah dan menghiraukan perkataan-perkataan pesimis dan negative dari luar. Klimaksnya adalah ketika saya sedang berada di titik jenuh dimana saya udah mulai merasa kalo ini gak akan berhasil dan mempunyai niat untuk menyerah. 

Hingga pada saatnya datang..

Ketika pada tahun ketiga (yang udah hampir memasuki akhir semseter), beasiswa dari Uni Eropa, Erasmus Mundus Lotus Project, kembali dibuka ! Ada konflik batin yang terjadi dalm diri saya. Ikut ? Enggak ? Ikut ? Enggak ? Bimbang dibuatnya. Ada perasaan untuk tidak daftar lagi mengingat udah tahun ke tiga dimana perkuliahan lagi padat-padatnya seperti ada Kuliah Kerja Nyata, Kerja Praktek dan lain-lain. Tapi, ada juga perasaan untuk mencoba apply sekali lagi, mengingat saya tau bagaiamana nyeselnya karena telah menyia-nyiakan kesempatan. Dan, saya pun mencoba dengan berkata dalam hati : ‘’Okey, ini yang terakhir kali deh. Kalo saya ditolak juga, saya tidak akan apply-apply lagi sampe lulus S1 nanti. Bismillah !’’

16 Mei 2011. Sent.

Sebulan berlalu, hingga datang bulan Juni. Saat itu saya sedang disibukkan dengan perkuliahan dan persiapan Kuliah Kerja Nyata. Gak ada di pikiran saya mengenai bagaiamana hasil scholarship Erasmus Mundus yang saya kirim bulan-bulan lalu.
Sampai pada suatu malem di Hari Jumat, tanggal 24 Juni 2011..
Saya mendapatkan e-mail yang isinya berbeda dari sebelum-sebelumnya. Isinya tersebut berhasil membuat saya terdiam beberapa detik:

Dear Aussie Andry Venmarchnanto,

Thank you very much for your application for a scholarship within the Erasmus Mundus Action 2 (EMA2) Lotus project. You were one of the 121 applicants. As the coordinating institution, Ghent University is delighted with the interest so many students, researchers and staff members have shown by taking part in this exceptional mobility opportunity for South-East Asia.

The consortium defined specific criteria for the assessment of the applications, in order to assure an objective selection procedure based on academic merit, language requirements, motivation and compatibility between requested and offered programs, and to guarantee equal opportunities for all applicants. The decision to grant a scholarship is based on the evaluation and ranking by the host universities concerned.

It is with great pleasure that we can inform you that you have been granted a scholarship for a(n) exchange BA - 6 months mobility period at Sciences Po.

Hening..

Saya baca berulang-ulang, saya cermati lagi, saya juga tanya teman akan maksud dan tujuan dari  isi e-mail tersebut, sampe akhirnya saya mengerti dan percaya kalo isinya menyatakan  saya berhak mendapatkan Scholarship ke Paris salama 1 semester! 

Asli ! Pada saat itu saya gak tau harus ngomong apa selain mengucapkan syukur Alhamdulillah kepada-Nya atas kekuatan yang telah diberikan. Saya langsung flashback di waktu ketika saya mendapatkan kegagalan-kegagalan. Di saat saya mau memtuskan untu menyerah.  Mungkin ini tidak akan terjadi kalo pada saat itu saya memutuskan untuk menyerah. Mungkin ini tidak bakal didapat kalo mental saya sudah ambruk di titik jenuh.  Bener-bener Ada-Pelangi-Setelah-Badai-Berlalu Moment banget deh pada waktu itu.

Setelah mengikuti proses keberangkatan, bikin visa, kelengkapan dokumen, pencarian housing dan sebagainya, akhirnya pada tanggal 28 Agustus 2011 saya terbang ke Eropa sebagai mahasiswa pertukaran pelajar dengan beasiswa dari Uni Eropa dalam Erasmus Mundus Undergraduate Program di Sciences Po, Paris-France  selama 1 Semester.

Pada akhirnya saya semakin yakin bahwa semua intinya berawal dari apa yang kita pikirkan karena itu dapat menimbulkan satu kekuatan besar yang dapat mendorong kita melakukan segala hal untuk menjadi seperti yang kita pikirkan. 
We are what we think. With our thoughts we make our world.”
Hal lain yang bisa saya yakini di sini juga adalah keberanian untuk mau bermimpi besar dan kemauan untuk mewujudkannya.  
Dare to dream big is not enough. You have to dare to make your dream come true.
 Mengapa ? Karena kalau kata Nidji, mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia. Hehehe.

***

Tuesday, August 28, 2012

Paris the beginning: Le Rêve

Andika Rinaldo Asry, end of summer 2011.

HORE GW KE LUAR NEGERI AKHIRNYA.


Norak memang kalimat awalnya, tapi itu lah yang ada di otak waktu sekitar minggu ketiga di bulan April 2011 sekitar beberapa menit sebelum masuk waktu solat subuh. Sebuah e-mail yang udah ditunggu hampir dua minggu terakhir akhirnya masuk juga ke push mail di BB. Ngarep, tapi ya ngga ngoyo kalo kata orang Jawa. Tapi ternyata harapan itu kali ini sesuai dengan ekspektasi tertinggi. Kalimat yang diawali dengan basa-basi a la suatu institusi penyedia beasiswa pun sudah tidak lazim lagi buat gw. Tapi kali ini di bagian kalimat yang dicetak tebal beda, ada kata congratulations nya! Yak, gw keterima beasiswa penuh pertukaran mahasiswa ke Paris untuk satu semester dari Erasmus Mundus (akhirnya). Entah tujuh atau delapan aplikasi serupa ke berbagai institusi sudah gw ajukan dalam dua tahun terakhir, dan selalu ada kata-kata unfortunately atau sorry udah kaya kartu lebaran aja masuk ke e-mail gw. Dua minggu setelah pagi itu pun gw dapat surat serupa, satu institusi tapi beda program, surat penerimaan beasiswa serupa ke Barcelona, tapi untuk dua semester. Lucu rasanya apa yang gw dapetin waktu itu, dulu gw tidak diinginkan mereka, sekarang mereka kepincut ke gw hehhee. Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya gw putusin pilih program yang di Paris, dan terpaksa lepas rezeki ke Barcelona itu. Then the journey began!


29 Agustus 2011 gw dianterin sama sahabat-sahabat SMA dan keluarga di Bandara Soekarno-Hatta. Entah kenapa bulan Agustus di tahun itu jadi salah satu bulan paling emosional buat gw. Sekitar dua minggu sebelumnya, teman-teman super baik gw pun melepas kepergian gw dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Berasa film Armageddon aja. Seumur-umur gw selalu membayangkan gimana rasanya pergi ke negara orang. Beda kebudayaan, bahasa, tradisi, dan semuamuanya. Dari kecil gw selalu tertarik sama geografi negara-negara Dunia. Bokap pun ngga mau biayain gw ke luar Indonesia, dia suruh cari sendiri gimana caranya bisa ke negara orang. Sekitar jam setengah satu pagi di hari itu akhirnya gw masuk ke pesawat Emirates, perjalanan sekitar 6 jam ke Dubai gw tempuh. Gw udah diwanti-wanti sama bokap yang udah beberapa kali ke bandara Dubai bahwa di sana itu gedenya gede banget bandaranya, jadi setelah clearance checking di sana, langsung cek dulu counter check-in penerbangan gw. Dan bener bandara Dubai besar dan bagus banget! Capek juga jalan ke counter penerbangannya karena di ujung banget letaknya. Gw transit selama 3 jam di sana. Ketika boarding gate dibuka dan satu persatu penumpang dipanggil, gw udah stand by di ruang tunggu. Sempat hampir ga naik pesawat, karena tinggal gw sendiri di ruang tunggu. Dengan agak panik gw tanya ke petugas, kenapa gw belom dipanggil juga, padahal kan penumpang kelas ekonomi harusnya dipanggil terakhir,tapi seat bagian gw ga dipanggil juga. Ternyata gw harusnya duduk di kelas bisnis dong, bokap diem-diem transfer skywards dia ke tiket gw, dan jadilah gw berasa jadi raja selama 6 jam di pesawat hhe.


Sekitar jam setengah satu siang waktu Paris akhirnya gw tiba di Bandara Charles de Gaulle. Setelah ambil bagasi dan ke imigrasi, gw langsung keluar menemui mas Rahmat yang ngejemput gw sekaligus menyediakan kamar di apartemen dia selama gw kuliah di Paris. Bandara Paris biasa aja ternyata. Hari itu cukup cerah walaupun suhunya masih agak dingin buat gw. Kami naik kereta RER-B, semacam KRL jarak jauh yang melayani rute Paris dan daerah pendukung sekitar Paris atau Jabodetabek lah kira-kira. Hari itu kebetulan hari terakhir puasa, tapi berhubung gw musafir, jadi bolong deh. Berarti malam itu harusnya takbiran, dan untuk pertama kalinya gw ga bisa denger suara takbiran sama sekali dari dalam kamar. Apartemen gw di sana itungannya agak jauh, karena gw dapetnya di banlieu sekitar 12 KM dari pusat kota Paris.



Hore Lebaran! Keesokan paginya gw dan mas Rahmat berangkat ke KBRI Paris untuk solat ied. Agak aneh rasanya ngga nyium aroma khas ketupat ketan, sambel ati balado, opor ayam, rendang, sama sayur buncis buatan nyokap. Si Aussie udah sampe di Paris beberapa jam lebih dulu dari gw, dan dia juga tinggal di apartemen yang berbeda sama gw, jadi kita belom ketemu sama sekali. Mas Rahmat ngebawa gw ke Eiffel dulu sebelum akhirnya kita ke KBRI. Kebetulan KBRI negara kita di Paris itungannya berlokasi di daerah elit, cuma 5-7 menit jalan kaki dari menara Eiffel, dan memang kawasan mahal. Untuk first-timer, gw disarankan untuk turun di stasiun metro Trocadéro; yang bisa dicapai dengan metro ligne 6 atau 9; alih-alih di stasiun metro Bir-Hakeim untuk mencapai Eiffel. Keluar dari stasiun metro pun gw masih belum melihat si 'menara-mirip-sutet' yang terkenal itu, dan gw dikasi tahu bahwa gw bakal surprised kalau datang dari arah stasiun metro itu, karena ngga keliatan sama sekali, padahal harusnya Eiffel itu keliatan dari mana pun karena ngga ada gedung pencakar langit di sekitarnya, yang merupakan kebijakan pemerintah setempat untuk menjaga keeksisan dari si menara. Sampai akhirnya setelah ngelewatin gedung museum yang agak besar di dekat sortie dari metro, gw dikasih hadiah lebaran di pagi itu yang harusnya udah terang kalau di Indonesia, tapi ini masih baru nongol mataharinya. Alhamdulillah


Foto perdana yang backgroundnya Menara Eiffel hhe

Setelah solat ied di bawah tanah dari gedung KBRI Paris, gw mulai lah berkenalan sama orang-orang Indonesia lainnya di sana. Setelah selesai solat ied, gw dan teman-teman berpencar. Gw, Aussie, Lucky, dan beberapa anak UGM yang kebetulan ketemu di sana dan baru saja memulai kuliah program Masternya, mampir ke Eiffel lagi, dan rencana awalnya main ke apartemen Aussie sebelum akhirnya mampir ke kampus kami selama di Paris:  Institut d'études politiques de Paris atau populernya disebut Sciences Po Paris. Sorenya kami mendapat undangan open house dari pak Dubes di rumahnya. Gw, Aussie, dan Lucky dengan (sok) pedenya bilang ke anak Indonesia lainnya kalau kami akan menyusul dan ketemu di sana aja langsung. Dengan modal navigo carte dan peta mini yang gw ambil kemarin sore di stasiun metro, kami pergi ke sana. Gw masih beradaptasi dengan sistem per-metro-an di Paris; yang sampai sekarang akhirnya gw kagum sama sistem integrasinya!; begitu pun Aussie dan Lucky. Turun lah kami di Porte Maillot dengan menggunakan metro ligne 1. Dari situ, biasa lah fase turis kan nih masih hari-hari pertama nyampe, langsung amazed liat sekitar (padahal ngga ada objek yang terlalu menarik), foto beberapa kali, dan akhirnya baru lah sadar kita ngga tau harus ke mana lagi. Kartu telepon lokal belum ada yang punya, apalagi mau cek GPS dari handphone. Bahasa Prancis juga pas SMA kena remediasi terus, les intensif pun cuma sebulan sebelum berangkat. Mati lah nyasar sampai sekitar 5 kali! Nanya sekitar juga ngga ada yang bisa bahasa Inggris. "Vous parler anglais?" itu aja modal kami selama nyasar yang artinya "Anda bisa berbahasa Inggris?", yang ada malah dijawab pake bahasa Prancis juga. Sampe sempat gw sengaja mendatangi pasangan suami istri muslim di jalan, terus sok-sok'an bilang assalamualaikum dulu dan nyapa "Bonjour madame et monsieur!" setelahnya, dan mereka tetap aja ternyata ngga bisa bahasa Inggris dan ngga tahu alamat yang kami maksud. Mungkin sekitar 45 menit kami nyasar, sampai akhirnya ketemu orang yang kami sepakat adalah malaikat. Seorang bapak paruh baya umur awal 60-an gw rasa, yang kami temui di salah satu jalan sepi waktu nyasar. Dia berbahasa Inggris sangat lancar dan rasanya kami bahagia banget setelah ngga ada satu orang pun yang emang entah ngga bisa atau malas berbahasa Inggris.
 Si bapak ini familiar dengan alamat yang kami tuju, dia menunjukkan setiap detailnya dengan rinci. Kami pun bergegas menuju jalan yang dimaksud. Sesuai dengan yang dia bilang patokannya, dan sampai akhirnya...nyasar lagi. Sempat terpikir untuk pulang aja lah langsung, karena udah mentah banget lebarannya gara-gara nyasar, tapi mau balik juga bingung karena ini udah bukan zona 1 Paris lagi, dan stasiun metro terdekat itu cukup jauh, harus naik bus dulu, tapi belum ngerti rute waktu itu sama sekali. Di salah satu perempatan, si Bapak itu muncul lagi. Dia kebingungan kok kami bisa nyasar lagi, kebetulan jalan nyasar itu searah sama rumah si Bapak. Dia pun nunjukkin jalan lagi, kali ini jauh lebih detail. Dari situ mulai terkikis stereotype orang Prancis yang selama ini nempel di kepala sebagai bangsa yang cuek, sombong, dan ngga ramah. Si Bapak cerita dia pernah main ke Indonesia waktu akhir tahun 80an, sambil bercerita pun kami dianterin jalan ke jalan yang udah tinggal lurus doang ke rumah dinas Dubes. Gw lupa siapa nama dia, tapi kami sempat foto bareng karena dia lah akhirnya kami bisa ketemu rendang dan komplotannya hhe.
 Open house Idul Fitri di rumah Pak Dubes


Untuk posting pertama tentang Paris segini aja dulu deh. Nanti gw lanjut lagi yang temanya tentang keunikan Kota Paris yang mungkin kurang banyak diekspos.


 

Blogroll

http://andikarinaldo.tumblr.com/ http://annisaukh.blogspot.com/ http://aussieandry.tumblr.com/ http://deowijaya.tumblr.com/ http://estriaputri.tumblr.com/

Total Pageviews